Selasa, 31 Mei 2011

gambut


Gambut
Apa yang ada dipikiran kita ketika mendengar kata gambut..??
Gambut merupakan jenis tanah yang terbetuk dari akumulasi sisa sisa tumbuhan yang  setengah membusuk. Oleh sebab itu kandungan bahan organiknya tinggi. Tanah yang terbentuk dilahan basah ini disebut dalam bahasa inggris sebagai peat. Istilah gambut sendiri diserap dari bahasa daerah banjar.
Pusat Penelitian Tanah (1990) mengemukakan bahwa tanah gambut atau Organosol adalah tanah yang mempunyai lapisan atau horison H, setebal 50 cm atau lebih atau dapat 60 cm atau lebih bila terdiri dari bahan Sphagnum atau lumut, atau jika berat isinya kurang dari 0,1 g cm3. Ketebalan horison H dapat kurang dari 50 cm bila terletak diatas batuan padu.

Tanah yang mengandung bahan organik tinggi disebut tanah gambut (Wirjodihardjo, 1953) atau Organosol (Dudal dan Soepratohardjo, 1961) atau Histosol (PPT, 1981).
Menurut andriense (1994), pembentukan gambut terjadi sekitar 10.000-5.000 tahun yang lalu (pada periode Holosin). Gambut di Indonesia,terjadi abtar 6.800-4.200 tahun yang lalu. Pembentukan gambut memerlukan waktu yang sangat panjang, dengan kecepatan 0-3 mm pertahun; pontianak 0,13 mm pertahun.
Proses pembentukan gambut dimulai dari adanya danau dangkal yang secara perlahan ditumbuhi oleh tanaman air dan vegetasi lahan basah. Tanaman yang mati dan melapuk secara bertahap membentuk lapisan yang kemudian menjadi lapisan transisi antaral apisan gambut dengan substratum (lapisan dibawahnya) berupa tanah mineral. Tanaman berikutnya tumbuh pada bagian yang  lebih  tengah dari danau dangkal ini dan secara membentuk lapisan-lapisan gambut sehingga danau tersebut menjadi penuh. Tanaman tertentu masih dapat tumbuh  subur diatas gambut topogen. Hasil pelapukannya membentuk lapisan gambut baru yang lama kelamaan memberntuk kubah (dome) gambut yang permukaannya cembung.
Berdasarkan proses pembentukkannya, gambut dibagi atas dua tipe, yaitu gambut topogen, dan gambut ombrogen.
Gambut topogen adalah gambut yang yang tumbuh mengusi danau dangkal, disbeut topogen karena proses pembentukannya, disebabkan topografi daerah cekungan. Umumnya gambut topogen tidak terlalu dalam, hanya sekitar 4 meter  saja, tidak begitu asam airnya dan relatif subur; dengan zat hara yang berasal dari lapisan tanah mineral di dasar cekungan, air sungai, sisa-sisa tumbuhan, dan air hujan. Gambut topogen relatif tidak banyak dijumpai.
Gambut ombrogen adalah gambut yang tumbuh diatas gambut topogen, dikenal dengan ombrogen karena dalam proses pembentukannya dipengaruhi oleh air hujan. Gambut ombrogen lebih tua umurnya, pada umumnya lapisan gambutnya lebih tebal, hingga kedalaman 20 m, dan permukaan tanah gambutnya lebih tinggi daripada permukaan sungai di dekatnya. Kandungan unsur hara tanah sangat terbatas, hanya bersumber dari lapisan gambut dan dari air hujan, sehingga tidak subur. Sungai-sungai atau drainase yang keluar dari wilayah gambut ombrogen mengalirkan air yang keasamannya tinggi (pH 3,0–4,5), mengandung banyak asam humus dan warnanya coklat kehitaman seperti warna air teh yang pekat. Itulah sebabnya sungai-sungai semacam itu disebut juga sungai air hitam.
Gambut juga diklasifikasikan dalam beberapa sudut panadang berbeda, yakni tingkat kematangan, kesuburan, kedalaman, dan  lingkungan, proses serta lokasi pembentukannya.
Berdasarkan tingkat kematangangan gambut, gambut terbagi atas:
1.       Gambut saprik (matang).
Yakni gambut yang sudah melapuk lanjut dan bahan asalnya tidak dikenali, berwarna coklat tua sampai hitam, dan bila diremas kandungan seratnya < 15%.
2.       Gambut hemik (setengah matang).
Yakni gambut yang setengah melapuk, bagian asalnya masih bisa dikenali,  berwarna coklat, dan bila diremas kandungan seratnya 15-75%.
3.       Gambut fibrik (mentah)
Yakni gambut yang belum melapuk, bahan asalnya masih bisa dikenali, berwarna coklat, dan bila diremas >75% seratnya masih tersisa.
Berdasarkan tingkat kesuburan gambut, gambut dibagi menjadi:
1.       Eutrofik
Yakni gambut yang subur yang kaya akan bahan mineral dan basa-basa serta  unsur hara lainnya. Gambut yang relatif subur biasanya adalah gambut yang tipis dan dipengaruhi oleh sedimen sungai atau laut
2.       Mesotrofik
Yakni gambut yang agak subur karena memiliki mineral dan basa-basa sedang.
3.       Oligotrofik
Gambut yang tidak subur karena miskin mineral dan basa-basa. Bagian kubah gambut gambut tebal yang jauh dari pengaruh lumpur sungai biasanya tergolong gambut oligotrofik.
Berdasarkan kedalaman gambut, gambut dibagi menjadi:
1.       Dangkal (50-100 cm)
2.       Sedang ( 100-200 cm)
3.       Dalam ( 200-300 cm)
4.       Sangat dalam ( > 300 cm)
Bedasarkan lingkungan, gambut dibagi atas:
1.       Topogen
Gambut yang terbentuk dilingkungan yang mendapat pengayaan air pasang.
2.       Ombrogen
Gambut yang terbentuk pada lingkungan yang hanya dipengaruhi oleh air hujan.
Berdasarkan proses dan lokasi pembentukan:
1.       Pantai
Gambut yang terbentuk dekat pantai laut dan mendapat pengayaan mineral dari air laut.


2.       Pedalaman
Gambut yang terbentuk didaerah yang tidak dipengaruhi oleh pasang surut air laut tetapi hanya oleh air hujan.
3.       Transisi
Gambut yang terbentuk di antara kedua wilayah  tesebut, yang secara tidak langsung, dipengaruhi oleh pasang air laut.
Penyebaran gambut di indonesia diperkirakan 20,6 juta hektar atau sekitar 10,8% dari luas indonesia. Dari luas tersebut, sekitar 5,7 juta hektar terdapat d kalimantan. Sedangkan persebaran gambut yang tersisa di indonesia terdapat pada sumatra dan sebagian papua.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar